apa itu absisi buah?

Absisi Buah
Absisi (obscission) atau kerontokan buah merupakan proses lepasnya buah dari pohon, seperti halnya daun, bunga, dan bagian-bagian bunga. Peristiwa gugurnya daun tumbuhan tampak seperti kejadian alam biasa. Namun, ternyata tidak demikian bagi para ilmuwan yang meneliti sungguh-sungguh fenomena yang diistilahkan dengan absisi ini. Absisi adalah suatu proses yang dilakukan tumbuhan untuk memisahkan dan membuang organ tumbuhan, seperti daun, kelopak bunga, bunga, dan buah yang tidak lagi diperlukan tumbuhan atau yang terserang penyakit

Absisi yang terjadi pada daun dan buah merupakan contoh senesen (penuaan). Daun tidak rontok begitu saja pada waktu mati. Pada kebanyakan tumbuhan, absisi didahului oleh proses diferensiasi pada zona absisi. Suatu daerah pembelahan sel yang disebut zona absisi berkembang dekat pangkal tangkai daun sehingga terbentuk sejumlah dinding sel yang melintang tegak lurus terhadap sumbu panjang tangkai daun.

Absisi buah terjadi pada zona absisi yang berada pada tangkai buah. Tempat zona absisi beragam sesuai dengan jenis buahnya. Buah tertentu memiliki lebih dari satu zona absisi, misalnya di daerah tangkai buah atau di dasar buah. Pada prunus (keluarga buah plum, persik, aprikot, ceri), misalnya di awal pengguguran, buah gugur berikut tangkainya, tetapi yang gugur belakangan tidak gugur dengan tangkainya. Pada jeruk, bagian pemisah terdapat di bawah pangkal buah, tempat berkas-berkas pembuluh berdivergensi dari dasar bunga memasuki karpel.

Taraf diferensiasi dari daerah absisi juga beragam pada buah yang berbeda-beda. Dalam daerah pemisah pada buah apel yang sudah masak, beberapa lapisan sel menunjukkan penambahan ukuran sel. Dinding sekunder dalam sklerenkim kehilangan sifat anisotropnya, sedangkan dinding primer dan sebagian dinding sekunder larut. Pembuluh kayu dan serat akan rusak. Pada buah jeruk, sejumlah pati akan terkumpul di daerah absisi dan pektin menghilang. Akibatnya dinding sel melemah.

Absisi buah yang terjadi sebelum masa panen menyebabkan kerugian bagi petani. Beberapa aplikasi zat pengatur tumbuh dapat mengurangi tingkat kerontokan buah. Misalnya, aplikasi auksin sintetis pada buah leci dapat mengurangi tingkat kerontokan buah dan meningkatkan pertumbuhan buah. Penyemprotan GA3 dan NAA (1-Naphthaleneacetic asam) dapat mengurangi tingkat kerontokan buah apel karena giberelin dapat merangsang pembelahan dan pemanjangan sel. Sampai taraf tertentu, masalah itu dapat dikendalikan dengan membubuhkan 2,4 D (2,4 dikloro fenoksiasetat) untuk mencegah hidrolisis senyawa pektin.

Sumber: Disarikan dan Anatomi Tumbuhan Berbiji, Oleh Estiti B Hidayat 1995, Penerbit ITB Bandung

Comments